Terkini

Saturday, 25 April 2015

RI Jadi Tuan Rumah Forum Ekonomi Islam Dunia


Indonesia dipilih menjadi tuan rumah dalam Forum Ekonomi Islam Dunia (World Islamic Economic Forum/WIEF) pada Mei 2016.

"Kita akan menjadi tuan rumah WIEF 2016 pada Mei di Jakarta, bersamaan dengan annual meeting Islamic Development Bank," ungkap Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, seperti mengutip dalam laman Setkab, Rabu (22/4/2015).

Dibeberkan Bambang, Indonesia sebelumnya juga pernah menjadi tuan rumah pertemuan forum ekonomi Islam iyu pada 2009. Forum tersebut diakui strategis karena akan dihadiri oleh para pelaku bisnis dari seluruh dunia, termasuk dari negara-negara Islam yang punya banyak dana untuk diinvestasikan.

Sekadar informasi, Ketua Yayasan WIEF Tun Musa Hitam mengemukakan, WIEF merupakan suatu organisasi yang sudah dibentuk selama 12 tahun serta semakin dikenal.

Hal ini terbukti, setiap diadakan secara tahunan, sekitar kurang lebih 3.000 pebisnis yang berasal dari seluruh dunia datang berkumpul, sebagaimana yang terjadi dua tahun lalu di London.


(Metrottvnews.Com / 22 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Thursday, 23 April 2015

UEA Rintis Jalan Menuju Pusat Rujukan Ekonomi Syariah Dunia

Pemerintahan Dubai menyetujui inisiatif pengembangan ekonomi secara Islam yang diusulkan oleh Dewan Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai, atau DIEDC. Persetujuan ini diambil oleh Putra Mahkota Dubai Shaikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid al Maktoum bersama Ketua Dewan Eksekutif Dubai pada Senin (20/4).

Beberapa inisiatif yang dikemukakan DIEDC adalah mengenai peluncuran indeks ekonomi Islam, edisi ketiga Islam Ekonomi award serta memberi kesempatan kepada negara ketiga untuk menerapkan pelaporan ekonomi Islam.

Shaikh Hamdan menyatakan, alasan pihaknya menyetujui usulan DIEDC karena ia juga menyadari bahwa ekonomi Islam saat ini mengalami percepatan pertumbuhan di semua sektor. Untuk itu, Dubai kedepannya akan segera diarahkan untuk merintis proyek-proyek baru untuk beberapa tahun ke depan untuk menjadi modal ekonomi Islam pada 2012 nanti.

"Kami memiliki pengalaman yang luas, roadmap yang jelas dan mitra strategis di UAE dan luar negeri. Setiap orang bekerja dengan semangat tim terpadu dan visi untuk mencapai tujuan kami dalam mengembangkan ekonomi Islam secara global. Kami akan meningkatkan produk-produknya, dan mengubah UEA menjadi pusat rujukan global untuk semua sektor sekutu,” kata Shaikh Hamdan, seperti dilangsir dari lamankaleejtimes.

Sebagai bagian dari aktivasi rencana ini, DIEDC akan mencari kolaborasi dengan museum internasional untuk menstabilkan posisi Dubai sebagai ibu kota Islam dalam fesyen, seni dan desain. Selain itu, Shaikh Hamdan pun mennyebut akan membuat pasar inti untuk makanan dan gaya hidup halal untuk masyarakat Dubai. 

Seperti diketahui pada Desember 2014 lalu  DIEDC dalam kemitraan dengan Thomson Reuters dan bekerja sama dengan Standard Dinar meluncurkan laporan dan memperkenalkan Indikator ekonomi Islam global, atau GIEI untuk periode 2014-2015.

Mereka mencatat adanya peningkatan sektor ekonomi Islam di 70 negara inti. Yang mana indeks komposit perdana dipimpin oleh UEA, Malaysia dan Bahrain. Laporan ini menurut mereka menunjukkan bahwa saat ini harus jadi momentum menerapkan ekonomi Islam secara global.

GIEI memperkirtakan bahwa pengeluaran global konsumen Muslim di sektor makanan dan gaya hidup tumbuh 9,5 persen dari tahun 2013. Diperkirakan, grafik peningkatan ini akan terus meningkat menjadi 10,8 persen pada tahun 2019 nanti.
(Republika Online / 21 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Wednesday, 15 April 2015

Masyarakat Dinilai Belum Siap Dengan Sistem Keuangan Syariah

Selain dukungan pemerintah, kunci utama pengembangan perbankam syariah ada pada masyarakat, terutama umat Islam. Besarnya industri ini tergantung pada kemauan umat untuk memindahkan dana perbankan konvensional dan memanfaatkan jasa perbankan syariah.
Pelaksana Tugas Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan yang juga hadir dalam seminar itu mengatakan,masalah utama industri keuangan syariah ada di masyarakat yang belum siap kehilangan dana dalam sistem keuangan syariah.

''Poin dalam keuangan syariah adalah soal transmisi risiko. Ini yang harus disadari pemilik dana, masyarakat,'' kata mantan Ekonom SeniorStandard Chartered Bank ini.

Soal keuangan, lanjut dia, isunya hanya dana dan biaya. Sumber dana perbankan syariah di Indonesia masih mahal, sehingga pembiayaannya pun terbatas. 

Padahal, bank syariah juga bisa mendirikan perusahaan manajemen investasi atau anak usaha lain yang sesuai regulasi sehingga akad mudharabah dan musyarakah (bagi hasil) bisa dikembangkan.

(Republika Online / 14 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Tuesday, 14 April 2015

Kajian Ilmu Ekonomi Islam Masih Belum Populer


Fakta menunjukan kajian ilmu ekonomi Islam sampai saat ini masih jauh dari harapan umat Islam sendiri. Bahkan persoalan mendasar seperti pengertian apa sebenarnya ilmu ekonomi Islam masih ramai diperdebatkan. 

Itulah salah satu kesimpulan yang ďapat diambil dari uraian panjang Akhmad Akbar Susamto Ph.D. saat menyampaikàn materi dalam Workshop Penelitian Ilmu Ekonomi Islam di Sekolah Pasca Sarjana UGM baru-baru ini.

Padahal, menurut pemateri yang juga Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM,  Akhmad Akbar Susamto, kajian tentang ilmu ekonomi Islam pernah sangat populer dikalangan akademisi pada tahun 1970 an. Kala itu kalangan akademisi sangat berharap kajian ilmu ekonomi Islam dapat menjadi cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. "Banyak yang berharap kajian ilmu ekonomi Islam menjadi cabang ilmu ekonomi yang sejajar dengan ilmu ekonomi konvensional," katanya.

Sayangnya, harapan kalangan ekonom dan akademisi Islam itu sedikit demi sedikit memudar hingga mengalami stagnansi. Bahkan masalah-masalah mendasar belum selesai diperdebatkan. "Kalau ada forum kajian ekonomi Islam, sebagian besar pembicaraan hanya berkisar tentang zakat, wakaf atau bank muammalat. Masih minim ekonom muslim yang berkomentar tentang subsidi BBM, BPJS atau pengentasan kemiskinan melalui perspektif Islam dengan dukungan data riset," kata Akhmaď Akbar Susamto. 

Problematika mendasar kajian ilmu ekonomi Islam antara lain mencakup pengertian tentang Islamic economics, Islamic economy dan Islamic economy system. "Masalahnya, sampai saat ini ekonom atau akademisi muslim tidak memiliki visi yang jelas tentang Islamic economy," kata Akhmad Akbar Susamto. "Dan karena tidak memiliki visi yang jelas maka kita memiliki kecenderungan ingin tampil beda saja," imbuhnya. Tak heran seringkali kita menemukan istilah-istilah semacam islamic economy, islamic banking dan sebagainya.

Selain itu ada juga kecenderungan para ekonom muslim yang terjebak mengikuti alur pemikiran ilimu ekonomi konvensional. "Meskipun pada awalnya mengkritik teori-teori ilmu ekonomi konvensional (kapitalis dan sosialis) namun para ekonom muslim tidak menawarkan solusi nyata untuk mengatasi masalah ekonomi," tutur Akhmad Akbar Susamto.

Terkait dengan problematika kajian ilmu ekonomi Islam, Akhmad Akbar Susamto menegaskan bahwa kesadaran akan adanya masalah tersebut merupakan satu kemajuan. "Dengan menyadari adanya suatu masalah maka itu adalah sebuah langkah maju menuju perbaikan," kata Akhmad Akbar Susamto.


(Kedaulatan Rakyat Onine / 11 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Friday, 10 April 2015

Ekonomi Islam Digital Mulai Menggeliat

Nilai ekonomi Islam digital diperkirakan berlipat ganda menjadi US$ 30 miliar pada tahun 2018. Hal ini didukung meningkatnya belanja konsumen pada layanan syariah di Timur Tengah.

Realitas ini menghilangkan pandangan Islam tidak sesuai dengan dunia modern. Seperti diketahui, sektor ekonomi inti Islam seperti makanan, wisata, fashion, perjalanan, farmasi, kosmetik, perbankan telah tumbuh dua digit.
Seperti dikutip dari Zawya, Senin, 6 April 2015, Konsultan Manajemen yang berbasis di Inggris Deloitte Touche Tohmatsu mengharapkan berbagai variasi segmen digital tersebut tumbuh bersama-sama.
"Belanja konsumen Muslim pada layanan digital Islami di sektor tersebut, dengan didorong oleh tingginya konsumsi media digital, kemungkinan akan berkembang sebanyak 25 sampai 30 persen di sebagian besar wilayah ekonomi Islam pada tahun 2015 dan seterusnya," katanya dalam sebuah laporan tentang teknologi, media dan prospek telekomunikasi di Dunia Arab.
Sementara Bahrain tetap menjadi pemimpin keuangan syariah, Dubai masih terus berusaha menjadi pusat keuangan syariah. Hal ini akan menambah sisi digital industri syariah.
Selain menjadi pusat keuangan syariah, Dubai juga ingin menjadi magnet bagi industri produk halal. Termasuk menjadi pusat wisata syariah yang ramah keluarga dan menarik pengusaha sebagai platform bisnis syariah seperti fashion, arsitek, seni dan pendidikan.
Dubai menawarkan lebih dari 100 juta pengguna internet, dan penetrasinya mencapai 35-40%, dengan lebih dari 100% berbasis ponsel. Penetrasi smartphone di wilayah ini sekitar 20-30% dan infrastruktur broadband yang kuat di beberapa bagian wilayah berarti ada dasar untuk membangun platform digital yang kuat.
Deloitte mencatat bahwa layanan digital Islami selama dua tahun terakhir telah mengalami perkembangan baru seperti munculnya majalah gaya hidup online Islami, fashion blog dan aplikasi solusi gaya hidup Islami.
Inovasi lain seperti masjid pintar - yang memungkinkan jamaah untuk berinteraksi dengan masjid menggunakan perangkat mobile dan kode respon cepat - menjanjikan meskipun masih dalam tahap awal pengembangan.
Namun Deloitte belum melihat ketertarikan pemain besar seperti Google dan Yahoo! untuk menyediakan layanan digital Islami.
Perbankan syariah dan takaful (asuransi syariah) berbasis internet adalah semua segmen yang diharapkan mendapatkan dorongan, karena kaum muda yang melek internet di kawasan ini sedang mencari jasa keuangan baru yang modern.
Namun, layanan digital Islami menghadapi tantangan pendanaan yang signifikan. Meskipun ada minat yang kuat dalam teknologi, media dan telekomunikasi, namun hanya ada sedikit perusahaan modal ventura di wilayah ini yang fokus pada layanan digital Islami. Hal ini menyiratkan adanya kesenjangan yang besar dalam ruang yang perlu diisi.
Contohnya adalah imhalal.com - mesin pencari yang terinspirasi oleh Google - ditutup karena kekurangan dana. Meskipun mampu menarik sekitar 10 juta kunjungan dan 70 juta permintaan pencarian.
"Ada sesuatu yang secara struktural salah dengan iklim investasi di wilayah MENASA. Startups teknologi benar-benar diabaikan," pengembang imhilal.com mengatakan di situs mereka.
"Kemajuan teknologi hampir tidak ada di Timur Tengah karena tidak ada yang mendukung para inovator dalam membangun berbagai macam teknologi untuk berbagai industri.

(Dream.CO.ID / 06 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Bank Islam Perlu Lebih Kompetitif Untuk Tarik Bukan Islam

Institusi kewangan Islam perlu memulakan strategi perniagaan yang lebih berdaya saing bagi meningkatkan keyakinan bukan Islam terhadap produk mereka, kata seorang sarjana Syariah.

Perunding Lembaga Perkhidmatan Kewangan Islam Sheikh Dr Yusuf Talal DeLorenzo berkata pengamal kewangan Islam perlu memperkenalkan produk dan perkhidmatan mematuhi Syariah yang lebih inovatif untuk memenuhi keperluan pengguna canggih.

Beliau berkata pasaran boleh diperluaskan jika peserta industri menghasilkan produk dan perkhidmatan yang kreatif dan inovatif supaya pengguna tidak akan memilih perkhidmatan perbankan alternatif.

"Jika kita berusaha untuk mendapatkan bahagian pasaran yang lebih besar, kita perlu cekap menjalankannya. Para peserta boleh berbuat demikian dengan melancarkan kempen pendidikan pengguna untuk menerangkan mengapa produk kewangan Islam lebih baik.

"Malah, kebanyakan produk kewangan Islam lebih baik berbanding konvensional, tetapi kita perlu menyampaikan mesej ini. Semakin cekap kita, semakin banyak kejayaan yang boleh dibawa kepada institusi kita," katanya kepada Bernama selepas mengambil bahagian dalam Forum Kewangan Islam di sini, hari ini.

Dr Yusuf Talal, yang juga penasihat Syariah untuk Dow Jones Islamic Markets dan Wafra Investment Group, berkata perbankan Islam juga perlu menggunakan teknologi dan rangkaian media sosial untuk meningkatkan kemudahan dan membolehkan produk kewangan Islam terus dipertingkatkan.

"Beberapa pelanggan saya menggunakan media sosial seperti blog dan Twitter untuk mencapai masyarakat dan memenuhi keperluan pelanggan," katanya.

Forum anjuran Akademi Penyelidikan Syariah Antarabangsa bagi Kewangan Islam dengan kerjasama Maybank Islamic dan Yayasan Dakwah Islam Malaysia itu bertujuan melibatkan cendekiawan Syariah antarabangsa dan peserta industri kewangan Islam mengenai kewangan dan perbankan Islam.

Antara cendekiawan terkenal ialah Sheikh Nizam Mohammad Salih Yaquby, pengerusi Lembaga Pengawalseliaan Fatwa dan Syariah Mawarid Finance, dan Dr Bashir Aliyu Umar, bekas penasihat khas kepada Gabenor Bank Pusat Nigeria mengenai perbankan tanpa faedah.


(Bernama.Com / 09 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Thursday, 9 April 2015

Dana Dagangan Bursa Islam ASEAN pertama

KUALA LUMPUR 8 April - Dana Dagangan Bursa (ETF) Islam ASEAN pertama dunia bakal disenaraikan di Bursa Malaysia pada 7 Mei ini.

Penyedia pengurusan pelaburan, i-VCAP Management Sdn. Bhd. (i-VCAP), hari ini melancarkan prospektus bagi ETF patuh Syariah itu, yang akan dikenali sebagai MyETF MSCI SEA Islamic Dividend (MyETF-MSEAD).
Ketua Pegawai Eksekutif i-VCAP, Mahdzir Othman berkata, MyETF MSEAD adalah ETF patuh syariah pertama di Asia Tenggara dengan saiz dana yang diluluskan sebanyak 500 juta unit.
“Pelabur boleh melanggan unit dana sehingga 22 April ini pada harga RM1 seunit dengan saiz langganan minimum sebanyak 100 unit,” katanya dalam sidang akhbar selepas majlis pelancaran prospektus dana patuh syariah MyETF MSCI SEA Islamic Dividend (MyETF MSEAD) di sini hari ini.
Yang turut hadir, Ketua Pegawai Eksekutif Bursa Malaysia, Datuk Tajuddin Atan dan Pengerusi i-VCAP, Wan Kamaruzaman Wan Ahmad.

Mahdzir berkata, pihaknya juga telah mendapat kebenaran daripada Suruhanjaya Sekuriti (SC) bagi melancarkan satu lagi dana dagangan bursa (ETF) menjelang hujung tahun ini.

Menurutnya, i-VCAP sedang menyiapkan beberapa perkara sebelum mengumumkan perkara tersebut.
“ETF merupakan satu produk yang terbukti mendapat sambutan baik di pasaran kewangan antarabangsa dan ini adalah masanya untuk Malaysia mengikut arus perkembangan pelaburan semasa,” katanya.

Beliau berkata, pasaran ETF global kini bernilai lebih daripada AS$2.9 trilion (RM10.56 trilion) dan kini semakin berkembang.

“Antara sebab pertumbuhan yang memberangsangkan bagi pasaran ETF ini adalah kerana pelabur di seluruh dunia menyedari akan nilainya, bagaimanapun di Malaysia kita kurang kesedaran dan pengetahuan mengenai ETF jadi kita perlu melakukan usaha-usaha untuk memberi mereka maklumat bagi membangunkan ekosistem ETF,” ujarnya.

(Utusan Online / 08 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Wednesday, 8 April 2015

Ekonomi Islam Harus Diperbaiki

Dunia Islam pernah menempat diri sebagai agama yang paling berjaya dan disegani pada masa lalu. Bahkan kejayaannya jauh meninggalkan dunia barat yang saat itu masih dalam masa kegelapan. Kesuksesan itu dicapai melalui dunia perdagangaan atau perniagaan yang diterapkan Rasulullah dan para sahabat.
Tapi sayangnya umat Islam sekarang terlalu terlena dengan kegemilangan masa lalu tanpa melakukan sesuatu untuk memperjuangkan Islam secara maksimal agar tetap bertahan hingga saat ini. Akibatnya, bangsa dan ekonomi Islam menjadi tertinggal dari negara yang menganut agama lain.
Hal itu disampaikan oleh Ustaz Norsham bin Abdul Aziz seorang pengusaha sukses dari Malaysia pada pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (1/4). Pengajian tersebut mengangkat tema ‘Jihat Ekonomi Syariah’.
Dia mengatakan, praktik kesusksesan ekonomi dalam Islam sudah diperlihatkan oleh Rasulullah dan para sahabat. “Rasulullah dan para sahabat menunjukkan kepada kita betapa pentingnya penguasaan ekonomi Islam untuk menjamin kehidupan beragama dan kelestarian dakwah Islam,” katanya.
Pendiri Ma’had Tahfiz Quran dan Keusahawan Islam Gombak ini menambahkan, bisnis gembala kambing merupakan bisnis pertama yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi mengambil upah dari menjaga ternak peternak yang jumlahnya ratusan ekor. Selain itu, Rasulullah juga sudah memiliki pengalaman berdagang dengan mengikuti pamannya sebagai pengimpor dan pengekspor ketika berusia 12 tahun.
Sayangnya, katanya, praktik yang diajarkan oleh Rasulullah tidak diteruskan oleh umatnya sekarang. Ekonomi umat Islam saat ini jauh tertinggal dari umat agama lain. Berdasarkan laporan Majalah TIME, penghasilan perkapita setiap tahun tertinggi dipegang oleh Yahudi sebesar 16,100 USD, Kristen sebesar 8,230 USD, dan Budha sebesar 6,740 USD. Sementara Islam hanya memperoleh 1,720 USD setiap tahun.
“Situasi ini jelas bertentangan dengan hadis Rasulullah yang mengatakan Islam itu cemerlang dan tidak ada suatu agama pun yang secemerlang Islam. Jelas sekali sebagai umat dan bangsa yang lemah, kita perlu berubah dan bangkit untuk kemblai menjadikan umat Islam sebagai umat yang disegani,” ungkap Ustaz Norsham.
Menurutnya, rata-rata umat Islam sekarang tidak meneladani Rasulullah sebagai pengusaha sukses. Pola pikir masyarakat saat ini lebih cenderung ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dari pada pengusaha. Seharusnya umat Islam harus berani menginvestasikan diri dalam bisnis sebagaimana yang diperagakan Rasulullah.
Lebih lanjut Ustaz Norsham menjelaskan, Alquran menyuruh kita berjihad dengan harta dan jiwa secara sekaligus. Kalau tidak ada harta bagaimana mungkin bisa berjihad dengan harta. “Dengan kekayaanlah musuh-musuh Islam berhasil memurtadkan umat Islam yang mayoritas dalam kemiskinan,” demikian Ustaz Norsham.

(Serambi Indonesia / 04 April 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Tuesday, 31 March 2015

Caj minimum bagi perbankan Islam

KUALA LUMPUR - Kesan cukai barang dan perkhidmatan (GST) ke atas fi dan caj perbankan adalah minimum, kata Persatuan Institusi Perbankan Islam Malaysia (AIBIM) hari ini.
   
AIBIM dalam satu kenyataan berkata bank Islam dan bank perdagangan akan melaksanakan pengendalian yang sama bagi GST.
   
Persatuan itu berkata ia bekerjasama rapat dengan pihak berkuasa termasuk Kementerian Kewangan, Kastam Diraja Malaysia, Bank Negara Malaysia dan Persatuan Bank-Bank Malaysia untuk menambah baik pelaksanaan GST bagi perkhidmatan dan produk kewangan.
   
Kerjasama itu akan memastikan proses peralihan lancar bagi pengguna.     

"Walaupun terdapat jangkaan kenaikan fi dan caj, bank-bank Islam akan berusaha untuk mewujudkan nilai dan meningkatkan kecekapan bagi menyediakan perkhidmatan yang lebih baik kepada pelanggan mereka," kata Presiden AIBIM Datuk Haji Mohd Redza Shah.


(Sinar Harian / 30 March 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Saturday, 28 March 2015

Konsep kafalah dalam perbankan Islam

KAFALAH menurut Islam membawa maksud jaminan dan tanggungan. Ia juga disebut sebagai dhamanah. Secara jelasnya, kafalah membawa maksud sebarang bentuk jaminan yang diberikan oleh pemberi/penanggung jaminan (kafil) kepada pihak ketiga atas kewajipan yang harus ditunaikan pihak yang ditanggung/dijamin (makful anhu). Menurut ulama terdahulu, jaminan boleh melibatkan harta dan diri pihak penjamin.
Sebagai contoh jaminan yang melibatkan harta si penjamin seperti dalam konteks berhutang. Kebiasaannya, pihak lain boleh menjamin penghutang dalam membayar hutangnya kepada pemiutang.
Dalam kes kemungkiran oleh pihak penghutang, maka pihak penjamin hendaklah membayar hutang tersebut bagi pihak penghutang.
Jaminan yang tidak melibatkan harta tetapi diri si penjamin adalah seperti dalam konteks pendakwaan iaitu si tertuduh dengan jaminan orang lain. Sekiranya, beliau tidak hadir dalam perbicaraan maka si penjamin hendaklah bertanggungjawab.
Amalan kafalah dianjurkan oleh Islam sebagai salah satu perbuatan yang mulia.
Ia sebagaimana dinyatakan dalam beberapa ayat al-Quran Surat Yusuf ayat 66 berbunyi:
“Bapa mereka berkata: ‘Aku tidak sekali-kali akan melepaskan dia (Bunyamin) pergi bersama-sama kamu, sehingga kamu memberi kepadaku satu perjanjian yang teguh (bersumpah) dengan nama Allah, bahawa kamu akan membawanya kembali kepadaku dengan selamat, kecuali jika kamu semua dikepong dan dikalahkan oleh musuh.’
Maka, ketika mereka memberikan perjanjian yang teguh (bersumpah) kepadanya, berkatalah dia: ‘Allah jualah yang menjadi saksi dan pengawas atas apa yang kita semua katakan itu’.”
Hutang
Jabir RA telah meriwayatkan bahawa: “Seorang lelaki meninggal dunia dan kami telah memandikannya dengan bersih, kemudian mengkafankan lalu dibawa kepada Rasulullah SAW. Kami bertanya kepada beliau: “Apakah Rasulullah akan mengerjakan solat jenazah ke atasnya?”
Rasulullah bertanya: “Apakah beliau mempunyai hutang?” Kami menjawab: “Ya, sebanyak dua dinar.” Kemudian Rasulullah berlalu dari situ. Maka, berkatalah Abu Qatadah: “Hutangnya sebanyak dua dinar itu menjadi tanggungjawabku.”
Lantas Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menunaikan hak orang yang memberi hutang dan si mati akan terlepas daripada tanggungjawabnya (hutang).”
Rasulullah lalu mengerjakan solat ke atas jenazah tersebut. Maka, pada keesokan harinya Rasulullah bertanyakan kepada Abu Qatadah tentang dua dinar itu dan Abu Qatadah menjelaskan bahawa beliau telah melangsaikan hutang jenazah tersebut.
Rasulullah SAW bersabda: “Sekarang kulitnya telah menjadi sejuk.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari)
Berdasarkan kepada dalil-dalil di atas dapat dirumuskan bahawa amalan kafalah adalah dituntut dalam Islam kerana ia boleh meringankan beban pihak yang tidak mampu melangsaikan tanggungjawab seperti hutang.
Fuqaha-fuqaha terdahulu mengkategorikan kafalah sebagai salah satu kontrak tabbaru`at (kebajikan) seperti hibah dan wakalah.
Kategori kontrak sedemikian bertujuan untuk menolong dan meringankan kesusahan pihak tertentu tanpa mengharapkan sebarang balasan.
Dalam sistem perbankan Islam, kebiasaannya konsep ini digunakan oleh pihak bank untuk menjamin hutang atau prestasi pelanggannya kepada pihak lain.
Sekiranya pelanggan gagal memenuhi hutangnya atau mencapai prestasi sebagaimana dijanjikan, pihak bank akan bertanggungjawab bagi pihak pelanggan tersebut.
Satu kelainan yang terhasil di sini adalah kerana pihak pelanggan terpaksa membayar jumlah tertentu untuk memperoleh jaminan daripada pihak bank.
Ini kerana, bank tidak mampu menanggung risiko untuk menjamin pelanggan membayar atau memenuhi obligasi tertentu maka, bayaran dalam konsep kafalah dikenakan.
Kebajikan
Justeru, telah timbul isu syariah apabila konsep kafalah berasaskan kebajikan tetapi mempunyai balasan tertentu seperti bayaran untuk mendapatkan jaminan.
Sebagaimana maklum, fuqaha terdahulu bersepakat bahawa konsep kafalah tidak boleh dikenakan sebarang bayaran atau balasan atas dasar berbuat kebaikan dan taqarrub kepada Allah.
Namun, terdapat sebahagian fuqaha kontemporari seperti Sheikh Nazih Hammad yang mengharuskan pengenaan bayaran kepada jaminan.
Di samping itu, pandangan itu disokong oleh Majlis Penasihat Syariah Bank Negara dan Suruhanjaya Sekuriti yang membenarkan praktis mengenakan bayaran pada sebarang jaminan.
Ini berdasarkan maslahah dan keperluan semasa serta kesukaran untuk memperoleh jaminan daripada pihak lain secara sukarela dalam konteks semasa kecuali menerusi cara pengenaan bayaran.
Keharusan ini boleh diqiyaskan kepada keharusan mengenakan bayaran untuk rawatan perubatan dengan menggunakan kaedah Islam (ruqyah Syar’iyyah) iaitu menerusi bacaan ayat-ayat al-Quran.
Justeru, memandangkan tujuan kedua-dua konsep ini adalah sama iaitu berbuat baik kepada orang lain dan taqarrub kepada Allah, maka mengambil kira keharusan ini, pengenaan bayaran untuk jaminan juga adalah diharuskan dalam syariah.
Pada masa kini, dalam memenuhi tuntutan pelanggan terdapat jaminan, pihak institusi kewangan Islam telah menawarkan beberapa produk jaminan berdasarkan konsep kafalah antaranya, produk Jaminan Bank dan Jaminan Penghantaran.

(Kosmo Online / 28 March 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Wakaf Korporat Perkasa Ekonomi Umat Islam

PUTRAJAYA, 26 Mac (Bernama) -- Konsep 'wakaf korporat' dapat memperkasakan ekonomi umat Islam dan menjayakan jihad bisnes, kata Pengerusi Awqaf Holdings Bhd (Awqaf) Tan Sri Muhammad Ali Hashim.

Muhammad Ali yang juga Presiden Dewan Perdagangan Islam Malaysia (DPIM) berkata konsep wakaf tidak terhad kepada aspek kebajikan seperti tanah perkuburan, madrasah atau masjid semata-mata, sebaliknya turut sesuai dimanfaatkan untuk mengatasi cabaran ekonomi.

"Orang Melayu khasnya dan umat Islam amnya, lemah dalam perniagaan dan rendah penguasaan korporat, menyebabkan mereka terpinggir dalam arus ekonomi global yang diteraju korporat gergasi antarabangsa.

"Wakaf korporat yang bercirikan pengekalan hak miliknya paling sesuai untuk menangani masalah kebocoran dan ketirisan harta kekayaan. Ia berupaya membanteras kemerosotan hak milik korporat Melayu dan umat Islam, sekali gus menegakkan keadilan ekonomi negara," katanya pada majlis memeterai perjanjian jual beli tanah antara Awqaf dan Putrajaya Holdings Bhd (PjH), di sini hari ini.

Beliau berkata perkara itu antara matlamat utama DPIM memperjuangkan wakaf korporat.

"Kami akui usaha untuk menjayakan wakaf korporat ini bukan suatu yang mudah," katanya yang turut menyeru umat Islam di negara ini menghidupkan semula budaya wakaf termasuk ahli korporat dan perniagaan Melayu yang berjaya dengan berwakaf dan berinfak menerusi Awqaf.

Katanya dana wakaf yang diterima akan diusahakan oleh Awqaf dalam bentuk perniagaan yang akan memberi manfaat kepada umat Islam.

"Semua keuntungan bersih tahunan akan menjadi aset tambahan tanpa diagihkan kepada mana-mana pihak iaitu 70 peratus untuk pelaburan semula dan 30 peratus lagi bagi program fisabilillah," katanya.

Perjanjian hari ini melibatkan pembelian tanah seluas 2.24 hektar berharga RM35 juta di Presint 3 yang akan dimanfaatkan sebagai taman korporat dan Kompleks AWQAF.

Muhammad Ali serta Timbalan Pengerusi Awqaf, Mohamad Sahar Mat Din mewakili syarikat itu manakala PjH pula diwakili oleh Ketua Pegawai Eksekutifnya Datuk Azlan Abdul Karim dan Pengurusan Besar Jabatan Undang-undang dan Perkhidmatan Korporat Aminah Baba.



(Bernama.Com / 26 March 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Wednesday, 4 March 2015

Kewangan Islam terus tumbuh

Kuala Lumpur: Kewangan Islam dijangka terus meningkatkan penguasaan dalam industri perkhidmatan kewangan dunia memandangkan ia mencapai kematangan dan keteguhan yang diperlukan.

Pengarah Urusan RHB Islamic, Ibrahim Hassan berkata, peserta industri Malaysia perlu melengkapi diri dan memperkukuh kecekapan mereka dalam membangunkan kewangan Islam menjadi barisan hadapan industri kewangan.

Beliau berkata, kehebatan Malaysia dalam industri kewangan Islam atas usaha sendiri oleh agensi berkaitan yang mungkin tidak mudah untuk ditiru negara lain.

“Berbanding bidang kuasa lain, kita beruntung kerana pengawal selia seperti Bank Negara Malaysia (BNM) bersama-sama agensi kerajaaan dan peserta pasaran membangunkan industri kewangan Islam yang dikawal selia dengan baik,” katanya dalam ucapan khas pada Persidangan Perbankan Islam dan Undang-undang Kewangan Antarabangsa 2015, di sini, semalam.

Persidangan dua hari itu dianjur oleh Badan Peguam Malaysia dan Malaysian Current Law Journal.
Ibrahim berkata, setakat ini Malaysia menguasai 60 peratus daripada pasaran sukuk dan hampir 25 peratus aset perbankan Islam dunia.

Cabaran industri kewangan Islam hari ini untuk terus membangunkan standard yang berpaksikan prinsip asas Islam.

“Jika mahu kekal relevan secara kompetitif, pasaran kewangan dan undang-undang yang mentadbir industri mesti dinamik,” katanya sambil menambah penubuhan jawatankuasa pengharmonian undang-undang di bank pusat akan memastikan kejayaan pelan induk dan rangka tindakan sektor kewangan.

(MyMetro / 04 March 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Saturday, 24 January 2015

Pertumbuhan positif hab kewangan Islam

KUALA LUMPUR 21 Jan. - Inisiatif kerajaan dalam Pelan Sektor Kewangan dan Pelan Induk Pasaran Modal Suruhanjaya Sekuriti Kedua telah meletakkan Malaysia sebagai hab kewangan Islam yang sedang tumbuh dan berkembang secara positif.

Ketua Pegawai Eksekutif Institut Perbankan dan Kewangan Islam Malaysia (IBFIM), Datuk Dr. Adnan Alias berkata, kedudukan kukuh berkenaan dicapai melalui penggunaan dan aplikasi pelaporan kewangan Islam yang begitu cemerlang dalam transaksi perniagaan.

Menurutnya, IBFIM juga sedang menyusun semula dan melengkapkan modul latihan pembelajaran kewangan Islam yang dilancarkan awal tahun lepas dan ini termasuk pem­belajaran secara dalam talian bagi memberi kefahaman kepada orang ramai mengenai kewangan Islam.

Dalam pada itu, Institut Akauntan Malaysia (MIA) dengan kerjasama IBFIM telah menganjurkan Persidangan Kewangan Islam 2015 yang memberi fokus dalam peraturan dan pelaporan yang baharu dalam kewangan Islam.

Mengulas lanjut, Adnan berkata, intipati persidangan berkenaan berkisar kepada pembelajaran profesional dan pembangunan yang berterusan di samping membincangkan isu penting dalam stan­dard pengawalseliaan dan laporan baharu bagi kewangan Islam mengikut Akta Perkhidmatan Kewangan Islam 2013 (IFSA 2013).

Sementara itu, Presiden MIA, Datuk Johan Idris berkata, tumpuan berkenaan adalah kepada golongan profesional dalam industri perkhidmatan kewangan antaranya akauntan, juruaudit dan pe­ngurus kewangan.

“Dengan perkembangan pesat dalam sektor kewangan Islam sekarang ini, kita mesti terus me­ningkatkan pengetahuan dan kemahiran terutamanya dalam bidang rangka kerja kawal selia dan undang-undang.

“Pelaksanaan persidangan pada tahun ini merupakan langkah yang tepat pada masanya kerana diyakini mampu menangani impak ke atas IFSA 2013 di institusi kewangan Islam di Malaysia,” katanya.

(Utusan Online / 22 January 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com

Friday, 9 January 2015

Manfaatkan dana kewangan islam

BANYAK persoalan ditimbulkan oleh ma­syarakat berkenaan pem­bangunan pasca banjir di negeri Pan­tai Timur – Kelantan, Terengganu dan Pahang. Persoalan juga menjurus kepada apakah pe­ranan dana kewangan Islam seperti zakat, wakaf dan baitulmal dalam membantu mangsa-mangsa banjir ini.

Seperti yang diperjelaskan oleh Ketua Pengarah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), Datuk Othman Mustapha dalam Utusan Malaysia baru-baru ini, masyarakat Islam yang terjejas dalam bencana banjir adalah golongan yang layak menerima zakat. Mereka tergolong dalam kumpulan asnaf al-Gharimin.

Siapakah al-Gharimin ini? Golong­an asnaf ini ialah orang yang berhutang dan mereka yang meng­alami kemudaratan seperti ditimpa musibah banjir.

Sehingga hari ini, terdapat beberapa pusat zakat negeri telah menghulurkan bantuan kepada mangsa banjir. Antaranya Lembaga Zakat Selangor, Majlis Agama Islam Kelantan, Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan dan lain-lain.

Usaha-usaha dan langkah yang dibuat oleh pusat zakat dalam membantu mangsa banjir menun­jukkan bahawa dana kewangan Islam memainkan peranan pen­ting dalam pembangunan ummah. Cakap-cakap negatif yang sering dilemparkan kepada pusat zakat harus dibuang jauh-jauh.

Namun, persoalan yang penting ialah bagaimana peranan dana kewangan Islam boleh terus diperkasakan pada masa akan datang? Adakah kutipan zakat pada masa ini mencukupi untuk menampung peningkatan jumlah asnaf yang semakin bertambah? Adakah dana-dana lain yang boleh digunakan bagi membantu umat Islam?

Persoalan sebegini tentunya me­ngundang pelbagai jawapan untuk dirungkaikan. Jika dilihat kepada jumlah kutipan zakat, boleh dikatakan ada peningkatan yang ketara sejak beberapa tahun kebe­lakangan ini.

Sebagai contoh, kutipan zakat di seluruh negara direkodkan berjumlah RM2 bilion pada tahun lalu. Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang memberangsangkan berbanding tahun-tahun sebelumnya.

Namun, apa yang dikhuatiri ialah jumlah peningkatan ini tidak selari dengan peningkatan bilang­an asnaf dan jumlah bantuan yang wajar diberikan kepada golongan ini. Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Jamil Khir Baharom pernah menyuarakan kebimbangannya mengenai peningkatan jumlah asnaf tidak selari dengan peningkatan jumlah kutipan zakat.
Kebimbangan beliau ini benar-benar menjadi realiti setelah negara dilanda musibah banjir. Golongan asnaf zakat meningkat secara mendadak akibat bencana ini dan sudah semestinya jumlah dana yang perlu dihulurkan adalah besar.
Jika sebelum ini asnaf diberikan bantuan sejumlah wang tunai de­ngan amaun tertentu, maka selepas bencana banjir jumlah tersebut mungkin tidak sesuai lagi. Jumlah ini perlu ditingkatkan. Peningkatan jumlah ini sudah pasti memerlukan lebih banyak dana zakat perlu dikumpulkan daripada orang ramai.
Justeru, rakyat di seluruh negara yang masih belum membayar zakat secara sah kepada institusi zakat wajar berbuat demikian.
Sebagai contoh, rekod Majlis Agama Islam Kelantan menunjukkan jumlah kutipan zakat sehingga 7 Januari 2015 adalah lebih RM2.2 juta. Daripada jumlah ini sebanyak RM960,000 telah diagihkan kepada asnaf.
Jumlah kutipan RM2 juta ini boleh dikatakan agak sedikit jika dibandingkan dengan jumlah orang Islam yang layak mengeluarkan zakat di Kelantan.
Logiknya jika makin ramai pihak tampil membayar zakat, jumlah ini boleh ditingkatkan sehingga berjuta-juta ringgit lagi. Ini sedikit sebanyak dapat membantu umat Islam dan pembangunan rakyat di sana yang dianggarkan telah meng­alami kerugian secara keseluruhannya melebihi RM500 juta.
Selain dana zakat, wakaf tunai juga merupakan satu lagi bentuk dana yang boleh menjadi pemang­kin kepada usaha pembangunan masyarakat pasca banjir. Wakaf tunai boleh dibuat dengan mewakafkan sejumlah wang tunai ke dalam satu tabung amanah yang boleh ditubuhkan secara khusus di bawah pengurusan organisasi wakaf.
Dana wakaf ini boleh digunakan bagi tujuan pembiayaan aktiviti-aktiviti kebajikan dan pembangunan untuk manfaat awam.
Usaha juga wajar digerakkan oleh majlis agama Islam negeri di seluruh negara bagi mewujudkan baitulmal negara. Baitulmal merupakan satu institusi yang berfungsi sebagai pemegang amanah perbendaharaan awam bagi orang Islam. Peranan utamanya ialah bagi me­ngendalikan aset untuk kepenting­an umum.
Dengan wujudnya baitulmal negara ini, harta umat Islam di seluruh negara boleh diuruskan dengan lebih efisien dan efektif. Kekangan yang ada pada masa ini seperti perbezaan undang-undang dan pengurusan antara negeri dipercayai menjadi antara faktor harta umat Islam tidak mencapai tahap produktiviti yang baik.
Justeru, dengan adanya baitulmal negara, perbezaan ini dapat diminimumkan. Ini sudah pasti membuka peluang yang lebih besar untuk harta tersebut dikembangkan. Produktiviti harta yang me­ningkat akan membolehkan umat Islam terutamanya yang ditimpa musibah seperti banjir mendapat manfaat daripadanya.
PENULIS ialah Pensyarah Kanan Perakaunan Islam, Pusat Pengajian Perakaunan (SOA), Universiti Utara Malaysia.

(Utusan Online / 09 January 2015)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com 
Islamic Unit Trusts Investment: www.islamic-invest-malaysia.com