Terkini

Showing posts with label tabarru. Show all posts
Showing posts with label tabarru. Show all posts

Monday, 10 November 2008

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia tentang Tabarru' pada Asuransi Syari'ah

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Tabarru' pada Asuransi Syari'ah. Menimbang :
a. bahwa fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah dinilai sifatnya masih sangat umum sehingga perlu dilengkapi dengan fatwa yang lebih rinci;
b. bahwa salah satu fatwa yang diperlukan adalah fatwa tentang Akad Tabarru’ untuk asuransi;
c. bahwa oleh karena itu, Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang Akad Tabarru’ untuk dijadikan pedoman.
Mengingat :
    1. Firman Allah SWT, antara lain:
    • Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. (QS. al-Nisa’ [4]: 2).
    • “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahtera-an) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. al-Nisa’ [4]: 9).
    • “Hai orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan). Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Hasyr [59]: 18).
    2. Firman Allah SWT tentang prinsip-prinsip bermu’amalah, baik yang harus dilaksanakan maupun dihindarkan, antara lain:
    • “Hai orang yang beriman! Tunaikanlah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hokum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. (QS. al-Maidah [5]: 1).
    • “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamiu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Nisa’ [4]: 58).
    • “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian memakan (mengambil)harta orang lain secara batil, kecuali jika berupa perdagangan yang dilandasi atas sukarela di antara kalian. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. al-Nisa’ [4]: 29).
    3. Firman Allah SWT tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif, antara lain :
    • “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesung-guhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. al-Maidah [5]: 2).
    4. Hadis-hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang beberapa prinsip bermu’amalah, antara lain:
    • “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
    • “Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang, saling mengasihi dan mencintai bagaikan tubuh (yang satu); jikalau satu bagian menderita sakit maka bagian lain akan turut menderita” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir).
    • “Seorang mu’min dengan mu’min yang lain ibarat sebuah bangunan, satu bagian menguatkan bagian yang lain” (HR Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari).
    • “Barang siapa mengurus anak yatim yang memiliki harta, hendaklah ia perniagakan, dan janganlah membiarkannya (tanpa diperniagakan) hingga habis oleh sederkah (zakat dan nafakah)” (HR. Tirmizi, Daraquthni, dan Baihaqi dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Abdullah bin ‘Amr bin Ash).
    • “Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf).
    • “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari ‘Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbas, dan Malik dari Yahya).
    5. Kaidah fiqh:
    • “Pada dasarnya, semua bentuk mu’amalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
    • “Segala mudharat harus dihindarkan sedapat mungkin.”
    • “Segala mudharat (bahaya) harus dihilangkan.”
Memperhatikan:
1. Pendapat para ulama, antara lain:
  • Sejumlah dana (premi) yang diberikan oleh peserta asuransi adalah tabarru’ (amal kebajikan) dari peserta kepada (melalui) perusahaan yang digunakan untuk membantu peserta yang memerlukan berdasarkan ketentuan yang telah disepakati; dan perusahaan memberikannya (kepada peserta) sebagai tabarru’ atau hibah murni tanpa imbalan. (Wahbah al-Zuhaili, al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, [Dimasyq: Dar al-Fikr, 2002], h. 287).
  • Analisis fiqh terhadap kewajiban (peserta) untuk memberikan tabarru’ secara bergantian dalam akad asuransi ta’awuni adalah “kaidah tentang kewajiban untuk memberikan tabarru’” dalam mazhab Malik. (Mushthafa Zarqa’, Nizham al-Ta’min, h. 58-59; Ahmad Sa’id Syaraf al-Din, ‘Uqud al-Ta’min wa ‘Uqud Dhaman al-Istitsmar, h. 244-147; dan Sa’di Abu Jaib, al-Ta’min bain al-Hazhr wa al-Ibahah, h. 53).
  • Hubungan hukum yang timbul antara para peserta asuransi sebagai akibat akad ta’min jama’i (asuransi kolektif) adalah akad tabarru’; setiap peserta adalah pemberi dana tabarru’ kepada peserta lain yang terkena musibah berupa ganti rugi (bantuan, klaim) yang menjadi haknya; dan pada saat yang sama ia pun berhak menerima dana tabarru’ ketika terkena musibah (Ahmad Salim Milhim, al-Ta’min al-Islami, h, 83).
2. Hasil Lokakarya Asuransi Syari’ah DSN-MUI dengan AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia) tanggal 7-8 Jumadi al-Ula 1426 H / 14-15 Juni 2005 M.
3. Pendapat dan saran peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada 23 Shafar 1427/23 Maret 2006.

MEMUTUSKAN
Menetapkan : FATWA TENTANG AKAD TABARRU’ PADA ASURANSI SYARI’AH
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan:
  • a. asuransi adalah asuransi jiwa, asuransi kerugian dan reasuransi syariah;
  • b. peserta adalah peserta asuransi (pemegang polis) atau perusahaan asuransi dalam reasuransi syari’ah.
Kedua : Ketentuan Hukum
  • 1. Akad Tabarru’ merupakan akad yang harus melekat pada semua produk asuransi.
  • 2. Akad Tabarru’ pada asuransi adalah semua bentuk akad yang dilakukan antar peserta pemegang polis.
Ketiga : Ketentuan Akad
1. Akad Tabarru’ pada asuransi adalah akad yang dilakukan dalam bentuk hibah dengan tujuan kebajikan dan tolong¬ menolong antar peserta, bukan untuk tujuan komersial.
2. Dalam akad Tabarru’, harus disebutkan sekurang-kurangnya:
  • a. hak & kewajiban masing-masing peserta secara individu;
  • b. hak & kewajiban antara peserta secara individu dalam akun tabarru’ selaku peserta dalam arti badan/kelompok;
  • c. cara dan waktu pembayaran premi dan klaim;
  • d. syarat-syarat lain yang disepakati, sesuai dengan jenis asuransi yang diakadkan.
Keempat : Kedudukan Para Pihak dalam Akad Tabarru’
  • 1. Dalam akad Tabarru’, peserta memberikan dana hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta atau peserta lain yang tertimpa musibah.
  • 2. Peserta secara individu merupakan pihak yang berhak menerima dana tabarru’ (mu’amman/mutabarra’ lahu, مؤمّن/متبرَّع له) dan secara kolektif selaku penanggung (mu’ammin/mutabarri’- مؤمّن/متبرِّع).
  • 3. Perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana hibah, atas dasar akad Wakalah dari para peserta selain pengelolaan investasi.
Kelima : Pengelolaan
  • 1. Pembukuan dana Tabarru’ harus terpisah dari dana lainnya.
  • 2. Hasil investasi dari dana tabarru’ menjadi hak kolektif peserta dan dibukukan dalam akun tabarru’.
  • 3. Dari hasil investasi, perusahaan asuransi dapat memperoleh bagi hasil berdasarkan akad Mudharabah atau akad Mudharabah Musytarakah, atau memperoleh ujrah (fee) berdasarkan akad Wakalah bil Ujrah.
Keenam : Surplus Underwriting
  • 1. Jika terdapat surplus underwriting atas dana tabarru’, maka boleh dilakukan beberapa alternatif sebagai berikut:
    • a. Diperlakukan seluruhnya sebagai dana cadangan dalam akun tabarru’.
    • b. Disimpan sebagian sebagai dana cadangan dan dibagikan sebagian lainnya kepada para peserta yang memenuhi syarat aktuaria/manajemen risiko.
    • c. Disimpan sebagian sebagai dana cadangan dan dapat dibagikan sebagian lainnya kepada perusahaan asuransi dan para peserta sepanjang disepakati oleh para peserta.
2. Pilihan terhadap salah satu alternatif tersebut di atas harus disetujui terlebih dahulu oleh peserta dan dituangkan dalam akad.
Ketujuh : Defisit Underwriting
  • 1. Jika terjadi defisit underwriting atas dana tabarru’ (defisit tabarru’), maka perusahaan asuransi wajib menanggulangi kekurangan tersebut dalam bentuk Qardh (pinjaman).
  • 2. Pengembalian dana qardh kepada perusahaan asuransi disisihkan dari dana tabarru’.
Kedelapan : Ketentuan Penutup
1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 23 Maret 2006 / 23 Shafar 1427 H
DEWAN SYARI’AH NASIONAL

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

Sekretaris,




DR. KH. M.A Sahal Mahfudh

Drs. H.M. Ichwan Sam


---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding, Pensyarah & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.islamic-invest-malaysia.com

Apa yang dimaksudkan dengan Takaful


PENGENALAN TAKAFUL
TAKAFUL berasal daripada perkataan Arab yang bermaksud ‘saling menjamin’ atau joint guarantee. Ia boleh digambarkan sebagai satu perjanjian antara sekumpulan peserta yang bersetuju untuk saling menjamin mana-mana ahli dalam kumpulan itu yang ditimpa kerugian tertentu.
Konsep takaful ini sudah pun wujud pada asasnya sejak sebelum zaman Islam lagi. Pada masa itu, ia dikenali sebagai sistem ‘aqila’ (tanggungjawab bersama) yang dipelopori oleh kaum-kaum Arab pada waktu itu.
Takaful yang dikenali sekarang beroperasi sebagai satu jenis perniagaan (tijari), dan ia berlandaskan prinsip Syariah, iaitu tiada unsur riba, perjudian atau ketidakpastian dalam kontrak dan pengendalian perniagaan takaful itu.
Dalam kontrak takaful, peserta bersetuju untuk menderma sebahagian daripada caruman mereka untuk membantu peserta-peserta lain yang menghadapi kesulitan/kerugian tertentu (ini di kenali sebagai tabarru’). Ia merangkumi unsur perkongsian tanggungjawab, saling menjamin dan melindung sesama mereka. Ini merupakan teras kepada sistem takaful yang menjadikan unsur ketidaktentuan dibenarkan dalam kontrak takaful.
APA YANG MEMBEZAKAN ANTARA TAKAFUL DAN INSURANS
Pada kacamata seseorang yang bukan dari bidang ini, dia akan melihat tiada perbezaan antara kedua-dua sistem tersebut. Selepas diteliti, pada asasnya perbezaannya hanyalah satu, iaitu sistem takaful berlandaskan prinsip Syariah. Akan tetapi, jika diselidiki lebih mendalam, ternyata ada banyak perbezaan antara dua sistem ini. Perbezaan-perbezaan ini boleh dikategorikan seperti berikut:
1. KONTRAK YANG DIGUNAPAKAI:
Dalam sistem takaful, kontrak yang digunapakai ialah gabungan kontrak tabarru’ (derma) dan agensi (wakalah) atau kontrak berkongsi keuntungan (mudharabah). Kontrak dalam insurans pula ialah kontrak pertukaran (jual dan beli) antara penanggung insurans dengan pelanggan (pihak yang diinsuranskan).
2. TANGGUNGJAWAB PEMEGANG
POLISI:
Peserta takaful membuat caruman ke dalam skim dan saling menjamin sesama sendiri dalam skim ini. Di bawah sistem insurans, pemegang polisi membayar premium kepada penanggung insurans.
3.LIABILITI PENGENDALI TAKAFUL / PENANGGGUNG INSURANS:
Pengendali takaful bertindak sebagai pentadbir skim dan membayar manfaat daripada kumpulan wang para peserta. Risiko tidak berpindah dari peserta kepada pengendali takaful. Walau bagaimana pun, sekiranya berlaku kekurangan dalam kumpulan wang para peserta tersebut, pengendali takaful diwajibkan oleh Bank Negara Malaysia memberi pinjaman (tanpa faedah) untuk menampung kekurangan berkenaan. Manakala insurans, penanggung insurans bertanggungjawab membayar manfaat insurans seperti dijanjikan dan ini akan dibayar kepada pelanggan dari wang asetnya.
4. PELABURAN KUMPULAN WANG:
Caruman yang diterima akan hanya dilaburkan dalam instrumen yang memenuhi kehendak Syariah. Bagi syarikat insurans, tiada sebarang sekatan dalam jenis pelaburan yang dibolehkan, selain sekatan yang dikenakan untuk tujuan kehematan.
Di Malaysia, industri takaful bermula sejak tahun 1985 lagi, dengan tertubuhnya Syarikat Takaful Malaysia Bhd. Ia adalah anak syarikat Bank Islam Malaysia Berhad. Sehingga kini, terdapat sembilan syarikat pengendali takaful yang sudah diberi lesen oleh Bank Negara Malaysia. Pada tahun 2005, penembusan pasaran atau market penetration industri takaful di Malaysia hanyalah 5.6 peratus, berbanding 38.7 peratus untuk industri insurans. Ini menunjukkan bahawa industri takaful mempunyai potensi yang amat luas yang perlu diterokai.
Perlu diingatkan bahawa ada perbezaan business model yang digunapakai oleh pengendali takaful di Malaysia kini. Dua model yang dikenali ialah ‘Model Mudharabah’ atau profit/surplus sharing dan ‘Model Wakalah’ atau agency. Pengendali yang menggunakan model mudharabah tidak memerlukan perkhidmatan ejen atau wakil untuk menjual produknya, tetapi menggunakan kakitangan syarikat untuk memasarkan produk-produknya. Model wakalah menggunakan perkhidmatan ejen atau wakil takaful untuk memasarkan produk-produknya. Terpulanglah kepada pelanggan untuk memilih produk atau syarikat yang disenangi.
(Utusan Malaysia, 9-4-08)
---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding, Pensyarah & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.islamic-invest-malaysia.com

Tuesday, 2 October 2007

Agihan dana tabarru dalam takaful diharuskan

KUALA LUMPUR 25 Sept. – Bank Negara Malaysia (BNM) memutuskan bahawa pengagihan lebihan dana tabarru dalam skim takaful dan penggunaan konsep wakalah dalam instrumen deposit adalah harus di sisi Syariah. Bank pusat itu dalam satu kenyataan hari ini berkata, perkara itu diputuskan oleh Majlis Penasihat Syariah (MPS) BNM. BNM berkata, MPS membenarkan lebihan akaun tabarru’ bagi pelan takaful keluarga dan pelan takaful am untuk diagihkan kepada peserta serta pengendali takaful adalah berasaskan kontrak takaful itu sendiri. ‘‘Secara umumnya, kontrak takaful secara umumnya terbina atas dasar tabarru’ iaitu sumbangan dan ta’awun iaitu bantu membantu. ‘‘Prinsip tabarru’ merupakan prinsip utama yang mendasari produk takaful, manakala prinsip lain seperti wakalah dan mudharabah digunakan dalam menyokong perlaksanaan operasi takaful,’’ kata BNM. Menurut kenyataan itu, keputusan MPS membenarkan pengagihan tersebut dibuat adalah atas dasar upah prestasi bagi pengendali takaful. Jelas BNM, secara umumnya, cara pengagihan seumpama itu turut diamalkan di kalangan pengendali takaful di Timur Tengah. Selain itu, tambah kenyataan itu, MPS juga mengumumkan akaun deposit berasaskan kontrak wakalah bi al-istithmar iaitu perwakilan bagi tujuan pelaburan adalah diharuskan. Namun begitu, katanya, perlaksanaan kontrak tersebut hendaklah dilakukan secara berhati-hati agar ia bebas daripada elemen jaminan oleh wakil terhadap pulangan pelaburan. Kata BNM, wakalah bi al-istithmar merupakan kontrak Syariah yang baru diluluskan oleh BNM untuk digunakan dalam instrumen deposit dan ia diharap dapat menambah bilangan produk institusi kewangan Islam yang kreatif dan berinovasi.

---
Latihan & Perundingan: www.alfalahconsulting.com 
Perunding, Pensyarah & Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Pelaburan Saham Amanah Islam: www.islamic-invest-malaysia.com